Girl in a Coma Rivu Album, Exits and All the Rest

Girl in a Coma Rivu Album, Exits and All the Rest – Jika kamu kenal segala sesuatunya tentang rock and roll 70-an, atau jika kebetulan kamu menangkap film biografi The Runaways 2010, maka kamu bakal ngerti bahwa ada wanita yang bernama Joan Jett dan dia super keren banget. Rebel, urakan, tapi eksplosif Joan Jett mampu menyihir semua orang dan mengguncang dunia rock tahun 70-an dan 80-an, tidak hanya dengan band aslinya The Runaways, tapi juga sebagai artis solo, dan bersama bandnya yang lebih terkenal, Joan Jett dan Blackhearts.

Fokus Jett tidak hanya terbatas pada musiknya sendiri, tapi juga tentang kemandirian, sikap para punk yang ingin serba mandiri. Di awal 1980-an dia membawa nama label independen Kenny Laguna, Blackheart Records. Tidak hanya itu, Blackheart juga merilis banyak single dari solo karir Joan, mereka juga telah membantu menolong beberapa band baru, yang tengah jadi sorotan. Salah satu yang paling jadi obroran di Barat Daya USA saat ini, adalah Band asal San Antonio, Girl In A Coma.

Seperti Joan Jett, mereka bawa genre amburadulnya sendiri, sebut saja post-punk sebagaimana yang kita pahami dari sebuah band yang dinamai dari lagunya The Smiths, yang tentu saja bawa lagu ke pendekatan pop-punk yang lebih tersaring (dan yang tentu saja memuaskan Joan Jett sendiri), Girl In A Coma telah bikin nama mereka sendiri tergabung di Barat Daya Amerika Serikat. Dengan merilis Album keempat mereka, Exits And All the Rest, Girl In A Coma menunjukkan betapa keras hatinya, dan tidak terhapuskannya tiga gadis itu dengan mikrofon.

Dengan vokalitas yang jatuh di suatu tempat antara The Runaways sendiri dan Warpaint, lagu rock-rock modern kontemporer, ala Girl In A Coma tentu saja akan langsung meninggalkan kesan abadi untuk para pendengar. Yang coba ambil kendali di sini adalah Nina Diaz, front women, di mana pipa-pipa paru-paru nya mampu mengeluarkan apa yang dia punya. Semua anggota band juga ikut besarkan upaya Nina.

Artinya Girl In A Coma dibawa sendiri di pundak Diaz, rekan-rekan semata penopang. Inilah yang terlihat dengan Joan Jett di Runaways. Diaz mendemonstrasikan penguasaan vokal seperti itu langsung dari “Exits” ke “Exits” dengan lagu pembuka ‘Adjust’ menampilkan suara yang membuat latar musik yang biasa-biasa saja menjadi hidup.

Meskipun ada beberapa yang mesti dikritik, tingkat notasi yang agak ketinggalan zaman dan beberapa upaya jam-sesi yang kurang mengesankan, ketiga anggota band yang merupakan pemain taruhan bola di agen sbobet ini memang berusaha keras untuk ngeksiskan musik mereka, tetapi ujungnya tidak lebih dari Diaz sendiri. Diaz bersinar terang sehingga band-nya menunjukkan tanda-tanda tertinggal di belakang.

Pada lagu seperti ‘She Had A Plan’ dia lihat Diaz hanya berekpresi lewat umpan balik katarsis, membuat jalan untuk notasi final yang benar-benar tidak terkendali, terinspirasi oleh Jett sendiri. Meskipun nama kelompok itu memberi penghormatan kepada legenda Morrissey, hal yang sama tidak terlihat pada cara penulisan lagu mereka. Terlepas dari beberapa momen yang bersinar, isi lirik secara konsisten ada di suatu tempat antara biasa-biasa saja dan lumayan.

Ketiga gadis Texas ini dapat mengekstraksi sejumlah lagu yang keras. Seperti yang diharapkan dari label pembaharu gaya punk 80-an, memungkinkan Girl In A Coma berdiri tanpa malu-malu dan membawakan musik mereka sendiri, mencoba bicara bersama dengan potensi potensi otentiknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *