Catatan Atas Penampilan Girl in a Coma, Saat Promosi Album Di 2011

Catatan Atas Penampilan Girl in a Coma, Saat Promosi Album Di 2011

Catatan Atas Penampilan Girl in a Coma, Saat Promosi Album Di 2011

Catatan Atas Penampilan Girl in a Coma, Saat Promosi Album Di 2011 – Mereka telah bubar, tapi masih sisakan banyak cerita. Trio Girl in a Coma yang berbasis di San Antonio pernah berkerjakeras, menjalani hidup kerartisan yang 90 persen kegiatan promosi, 10 persen asah bakat. Termasuk mempromosikan album Indy terakhirnya di Radio Radio pada, dua minggu sebelum mereka kembali pergi tour juga kembali demi mempromosikan album terakhir, Exits and All the Rest, yang dirilis pada 2011, melalui label rekaman Joan Jett Blackheart Records.

Aksi mereka memang jauh dari koma, gadis-gadis itu masih coba pasarkan lagu-lagu versi baru dari album baru serta beberapa percikan api lama dan bahkan mengkavering the Beatles. Untuk aksi yang terakhir, kadang saya mempertanyakan apa beda tribut dengan eksploitisir jam album, karena ide tengah kering?

Maksudnya, Elastica band asal Inggris pernah mengeluarkan album yang lebih nampak sebagai mini album, karena mereka tidak sanggup lagi bikin lagu lebih banyak. Tapi mereka tidak mau juga memainkan lagu orang mengatasnamakan Cover. Tapi itu pilihan, selama Nina Diaz bernyanyi, sejauh itu pula saya akan dengar. Atau lihat, sebagaimana saya tonton dalam konsernya di Radio Radio.

Digawangi oleh gitaris dan penyanyi utama Nina Diaz, grup ini membuka penampilannya dengan “One Eyed Fool,” sebuah lagu baru dari album baru. Menatap dengan intens pada penonton, matanya yang gelap lebar dan tampak fokus, sayangnya vokal Diaz sepertinya tidak masuk dengan baik. Sepertinya dia serak atau tenggorokannya aus.

Namun, itu teratasi ketika dia meminta mik-nya volumenya di naikan dalam sesi jeda di antara lagu. Ketika mereka memainkan lagu berikutnya, “Static Age,” dari album 2009, Trio B.C., tampak hal-hal di bawah kendali dan suaranya sepertinya mengikuti musik sedikit lebih baik. Dan itu jadi bagus pada akhirnya, karena vokalnya yang nyaring namun manis adalah salah satu alasan utama untuk mendengarkan band ini.

Kita tidak berusaha mengabaikan Jenn Alva dengan bass atau Phanie Diaz (kakak Nina) di drum. Alva yang sekaligus merupakan pemain slot online di situs judi online resmi terpercaya telah memainkan bass Epiphone yang memberikan suara yang indah, merdu, dan undercarriage yang hampir mulus ke dalam pertunjukan, sementara Phanie Diaz menunjukkan akar punknya pada drum dengan ketukan yang bagus dan banyak nada cymbal di tempat yang tepat.

Apa yang paling jelas selama pertunjukan ini adalah sound kasar, alt-rock yang dimiliki gadis-gadis ini ketika bermain live: mereka memperlambat tempo sedikit, menambah lebih banyak distorsi, dan sepertinya lebih lama berada di chord. Ini terutama terlihat pada lagu “Control.” Mode Grunge sudah jelas bukan yang hal yang bagurs untuk memaksimalkan pesona suara Nina yang khas, tetapi itu memberikan pesona panggung live yang lebih baik.

Setelah “Control”, mereka meluncurkan lagu versi sendiri “While My Guitar Gently Weeps,” yang pernah di bawakan The Beatles lagu ini asyik, selalu asyik untuk jadi kaver. Selanjutnya mereka memainkan single mereka dari Exits, yang disebut “Smart,” lagu emo bergaya era tahun 80-an yang benar-benar menyedihkan yang mengingatkan kembali pada pengaruh utama mereka, seperti The Smiths. Lagu ini memberikan kesan bahwa Joan Jett telah memasuki kepala para gadis ini, serta mendiktat mereka tentang apa yang terbaik, yang bagi kami tidak masalah, karena siapa yang berani berdebat dengan seorang legendaris seperti Joan Jett? Saat dia mengeluarkan suara, yang kamu butuh memang kertas dan pena.

Girl in a Coma, Both Before Im Gone Rivu

Girl in a Coma, Both Before Im Gone Rivu – Mereka band wanita yang sangat berbakat, tapi hampir tidak dikenali, datang entah dari mana dan merekam debut mengesankan yang tidak terduga. Bukan hal yang aneh bagi sebuah band dengan kesejatian dan bakat untuk datang tanpa disadari, atau muncul langsung diremehkan. Girl In A Coma adalah salah satu kasus yang menyedihkan, dan lebih dari itu, alasannya karena musik mereka dituding tidak kompleks, penampilan mereka tidak instagramable, atau mereka kurang bisa diajak ngobrol ke titik tolak mainstream bersama kawan-kawanmu.

Tapi kebalikannya semua anggapan : trio wanita dari Texas ini mampu menulis lagu dengan baik, bermusik yang baik, memiliki penyanyi yang fenomenal, dan memiliki energi dan semangat yang besar, semuanya dalam konteks musik yang mudah diakses di era sosmed, dan mereka sangat menyenangkan khas milenialis. Bisakah kamu benar-benar meminta lebih banyak di saat orang berikan lebih dari permintaanmu?

Jelas ini sangat kacau, mereka trio gadis-gadis goth loli dari dicopot kalender Suicide Girl yang memuja Smiths, lalu merilis album yang menyerbuk silang Pixies era Bossanova dengan semua yang pernah Anda sukai tentang Breeders. Bermain gitar cepat sambil marah, tetapi tidak pernah terlalu mencolok. Di album Both Before Im Gone semua tentang generasi ini bersama anggapannya tentang musik Punk.

“The Photographer” merupakan hasil termurni Kim Deal adrenalin, sementara tepukan tangan bisa diberikan ke lagu “In the Background”. Namun, tidak semua lagu “baik-baik saja” dibawakan dengan gaya penuh nestapa, lagu “Mr. Chivalry” merupakan lagu lima menit yang semestinya jadi lagu empat menit (sebagian besar lagu-lagu di album ini, berteriak pada saya bahwa mereka adalah lagu empat menit, tapi para wanita ini ingin lebih lama lagi memamerkan suara Nina Diaz, baiklah alasannya saya terima). Lalu, seringkali vokal penyanyi Nina Diaz terlalu rendah dalam mixer. Karena alasan inilah lagu penutup “Simple Man” kurang penetrasi vokal dari seharusnya memukul kepala saya jadi final punch, menjadi sekedar mengelus lembut, baiklah mungkin saya butuh sentuhan lembut.

Pengambilan akustik dan suara yang sederhana di sebagian besar lagu, pada pokoknya brilian, membiarkan sang Diaz (Nina) menyentuh semua notasi. Dengan album debut yang sepenuhnya terbentuk seperti ini, orang hanya bisa bertanya-tanya apa alasan orang-orang lambat mengenali mereka. Dicap sebagai band punk, mereka bisa dengan mudah diberi label alternatif atau band pop.

Girl In A Coma memiliki bakat untuk menulis lagu yang bagus yang tak dapat disangkal, menarik, adiktif karena penuh dengan penyikapan dan jiwa. Tidak ada di tahun 2008 yang mengalahkan melodi mereka yang baik, dan gadis-gadis ini dapat menulisnya. Album ini, walau agak panjang, menarik dari awal hingga akhir.

Dari saat pembuka “Clumsy Sky” dimulai, Anda harus terus mendengarkan, dan Anda takjub akan bakat yang ditampilkan di seluruh dua belas lagu berikutnya. Mereka beralih dari lagu punk yang langsung-langsungan seperti “Say”, ke balada indah seperti “Their Cell”, atau ke sesuatu di antara punk dengan melodi ala waltz, dan mereka mengkonsep semuanya dengan baik.

Dirilis pada 2007, sangat mengherankan bagaimana Girl In A Coma belum mendapatkan pengakuan yang lebih luas. Both Before I’m Gone adalah album debut yang brilian dan membawa refreshing yang tidak pernah mengecewakan. Perempuan, memang, dapat dengan tepat membuat musik yang mengasyikkan.

Girl in a Coma Rivu Album, Exits and All the Rest

Girl in a Coma Rivu Album, Exits and All the Rest – Jika kamu kenal segala sesuatunya tentang rock and roll 70-an, atau jika kebetulan kamu menangkap film biografi The Runaways 2010, maka kamu bakal ngerti bahwa ada wanita yang bernama Joan Jett dan dia super keren banget. Rebel, urakan, tapi eksplosif Joan Jett mampu menyihir semua orang dan mengguncang dunia rock tahun 70-an dan 80-an, tidak hanya dengan band aslinya The Runaways, tapi juga sebagai artis solo, dan bersama bandnya yang lebih terkenal, Joan Jett dan Blackhearts.

Fokus Jett tidak hanya terbatas pada musiknya sendiri, tapi juga tentang kemandirian, sikap para punk yang ingin serba mandiri. Di awal 1980-an dia membawa nama label independen Kenny Laguna, Blackheart Records. Tidak hanya itu, Blackheart juga merilis banyak single dari solo karir Joan, mereka juga telah membantu menolong beberapa band baru, yang tengah jadi sorotan. Salah satu yang paling jadi obroran di Barat Daya USA saat ini, adalah Band asal San Antonio, Girl In A Coma.

Seperti Joan Jett, mereka bawa genre amburadulnya sendiri, sebut saja post-punk sebagaimana yang kita pahami dari sebuah band yang dinamai dari lagunya The Smiths, yang tentu saja bawa lagu ke pendekatan pop-punk yang lebih tersaring (dan yang tentu saja memuaskan Joan Jett sendiri), Girl In A Coma telah bikin nama mereka sendiri tergabung di Barat Daya Amerika Serikat. Dengan merilis Album keempat mereka, Exits And All the Rest, Girl In A Coma menunjukkan betapa keras hatinya, dan tidak terhapuskannya tiga gadis itu dengan mikrofon.

Dengan vokalitas yang jatuh di suatu tempat antara The Runaways sendiri dan Warpaint, lagu rock-rock modern kontemporer, ala Girl In A Coma tentu saja akan langsung meninggalkan kesan abadi untuk para pendengar. Yang coba ambil kendali di sini adalah Nina Diaz, front women, di mana pipa-pipa paru-paru nya mampu mengeluarkan apa yang dia punya. Semua anggota band juga ikut besarkan upaya Nina.

Artinya Girl In A Coma dibawa sendiri di pundak Diaz, rekan-rekan semata penopang. Inilah yang terlihat dengan Joan Jett di Runaways. Diaz mendemonstrasikan penguasaan vokal seperti itu langsung dari “Exits” ke “Exits” dengan lagu pembuka ‘Adjust’ menampilkan suara yang membuat latar musik yang biasa-biasa saja menjadi hidup.

Meskipun ada beberapa yang mesti dikritik, tingkat notasi yang agak ketinggalan zaman dan beberapa upaya jam-sesi yang kurang mengesankan, ketiga anggota band yang merupakan pemain taruhan bola di agen sbobet ini memang berusaha keras untuk ngeksiskan musik mereka, tetapi ujungnya tidak lebih dari Diaz sendiri. Diaz bersinar terang sehingga band-nya menunjukkan tanda-tanda tertinggal di belakang.

Pada lagu seperti ‘She Had A Plan’ dia lihat Diaz hanya berekpresi lewat umpan balik katarsis, membuat jalan untuk notasi final yang benar-benar tidak terkendali, terinspirasi oleh Jett sendiri. Meskipun nama kelompok itu memberi penghormatan kepada legenda Morrissey, hal yang sama tidak terlihat pada cara penulisan lagu mereka. Terlepas dari beberapa momen yang bersinar, isi lirik secara konsisten ada di suatu tempat antara biasa-biasa saja dan lumayan.

Ketiga gadis Texas ini dapat mengekstraksi sejumlah lagu yang keras. Seperti yang diharapkan dari label pembaharu gaya punk 80-an, memungkinkan Girl In A Coma berdiri tanpa malu-malu dan membawakan musik mereka sendiri, mencoba bicara bersama dengan potensi potensi otentiknya.

Girl in a Coma, Impian Rockstar Ketemu Rockstar

Girl in a Coma, Impian Rockstar Ketemu Rockstar

Girl in a Coma, Impian Rockstar Ketemu Rockstar – Girl in a Coma mengingatkan: “Jangan biarkan musik datang kepadamu, Temukan musiknya.”

Joan Jett menemukan musik Girl in a Coma, saat pertama kali dia mendengarnya. Pandangan para gadis itu malah sebaliknya, “Sungguh menakjubkan bertemu Joan Jett,” kata Phanie Diaz, kakak perempuan dan drummer untuk band ini. “Inilah ikon tempat Anda tumbuh dewasa, mendengarkan vinilnya, tepat di depan Anda yang menganggukkan kepalanya ke musik Anda. Dia adalah jiwa yang luar biasa, cerdas, dan berhati besar. Kita beruntung.”

Dari sejak Diaz dan Jenn Alva membawakan lagu-lagu punk berdua dan bermimpi membentuk sebuah band. Mereka pun lalu ajak sang adik yang imut jadi vokalisnya.

Kini. Di atas panggung di festival South By Southwest [SXSW] di Austin, Girl in a Coma pernah bermain di sebuah panggung yang penuh sesak di sebuah klub di Sixth Street bersama seorang tamu istimewa, Cherie Currie, salah satu founder band ikon tujuh puluhan yang semuanya perempuan The Runaways. bassis Girl in a Coma Jenn Alva menyatakan itu adalah momen “rockstar” yang nyata baginya.

“Saya kira, kita benar-benar pernah kepikiran tentang ‘Oh, kami sangat keren,’ tetapi ketika kami jadi band cadangan untuk Cherie, kami hanya merasa seperti, ‘YEAH!,” kata Alva. Drummer Phanie Diaz, tertawa, berkata, “Ya, bibir Jenn secara alami gemetaran [lihat rockstar beneran]!”

Anggota Girl in a Coma – Nina dan Phanie Diaz, dan teman mereka Jenn Alva, kompak menyebut bahwa Morrissey, Elvis, dan Joan Jett sebagai artis inspirasional yang telah membentuk trio punk-power ini. Jett malah mengajak Girl in a Coma masuk ke label Blackheart Records beberapa tahun yang lalu, dan Joan sendiri muncul sebagai artis tamu di album, “Trio B.C.” siapaun masih dapat mendengar pengaruh-pengaruh Joan – dan lebih banyak lagi – dalam musik Girl in a a coma.

Bulan ini, mereka merilis tiga lagu sampul mini album, untuk membayar upeti kepada grup favorit mereka dari masa lalu. “Saya pikir banyak generasi muda milenial, tidak tahu banyak dari band-band ini,” kata Phanie Diaz. “Anda tahu, mereka dengan cepat karena mendengar apa yang ada di TV saat ini, jadi kami pikir ini jadi cara yang bagus kenapa kami rilis album kaver untuk mereka.”

Seri dari mini album itu disebut “Adventures in Coverland.” Tujuh lagu disertakan, mencakup lagu tahun lima puluhan hingga delapan puluhan, dengan pengaruh country, pop, rock, dan bahkan musik hispanik Tejano pun diwakili di album ini. Girl in a Coma membawakan lagu tejano pertama mereka dalam bahasa Spanyol di album “Trio B.C.” Sekarang mereka mengkaver lagu artis ikon Texas Selatan yang paling dihormati, Selena. Bassist Jenn Alva mengatakan lagu Selena “Amor Prohibido” jadi CD pertamanya saat dia tumbuh dewasa.

“Jika Anda tidak punya vinil Selena, Anda adalah kutu buku, yang cuma ngerti buku, bukan musik” tambah Phanie Diaz.

Jenn melanjutkan, “Ada banyak kesamaan dengan Selena dan kami. Khususnya, Nina dan Selena, kami tahu bahwa kami harus mengkover lagu Selena, dan ‘Si una vez’ adalah satu lagu yang ketika kami mendengarnya, kami pikir, sudah ada feeling padanya, ada rock ‘n’ roll. Jadi yang harus kita lakukan adalah sedikit mengatasinya dan menjadikannya bergaya Girl In A Coma.